Impian Paviliun Merah

Impian Paviliun Merah (Hong Lou Meng, Dream of the Red Chamber) adalah sebuah karya sastra Tiongkok terkenal yang ditulis pada masa dinasti Qing. Novel yang ditulis oleh Cao Xueqin pada tahun 1754 ini pada awalnya diberi judul Kisah Sebuah Batu (shitou ji), tetapi kemudian diubah menjadi Impian Paviliun Merah (Hong Lou Meng) pada tahun 1784. Novel ini pada umumnya diakui sebagai salah satu puncak fiksi Tiongkok. Saking menariknya, diciptakanlah sebuah studi baru yang dikenal dengan nama "redologi", sebuah cabang ilmu  yang dikhususkan mempelajari berbagai pernik dalam karya sastra ini.

Impian Paviliun Merah merupakan salah satu dari 4 karya sastra terbaik di dalam sejarah sastra Tiongkok, bersama dengan Perjalanan Ke Barat (Xi You Ji, Journey to The West), Kisah Tiga Negara (Sanguozhi Yanyi, Samkok, Romance of the Three Kingdoms), dan Batas Air (Shui Hu Zhuan, Water Margin).

Banyak yang meyakini, alur kisah yang dijalin dalam novel ini merupakan suatu semi-otobiografi sang penulisnya, yang mengisahkan naik turunnya kehidupan keluarga Cao Xueqin yang hidup di jaman dinasty Qing. Sebagaimana diceritakan dengan sangat detail di bab pertama, nampaknya novel ini dimaksudkan sebagai wahana mengenang wanita yang pernah dikenalnya ketika masih muda, kawan-kawannya, handai taulannya, dan para pembantunya.

Novel ini sangat luar biasa dalam menggambarkan dimensi psikologis tokoh-tokoh dalam novel, ketelitian serta kecermatan dalam menggambarkan kehidupan dan struktur sosial Tiongkok di abad ke-18. Selain itu, novel ini juga memperlihatkan kepiawaian pengarangnya dalam menyuguhkan berbagai gaya penulisan dan tipologi karya sastra klasik Tiongkok.

Novel ini ditulis dalam bahasa sehari-hari, bukan bahasa sastra Tiongkok klasik, dibumbui oleh banyak puisi Tiongkok dan Tiongkok Klasik, sementara dialog-dialog antar pelaku ditulis dalam dialek Mandarin Beijing, yang dewasa ini menjadi dasar pengucapan bahasa Mandarin modern. Pada awal abad ke-20, ahli bahasa menggunakan teks dalam novel ini dalam upaya membakukan bahasa Mandarin, sementara itu para reformis memanfaatkan novel untuk mempromosikan penulisan karya sastra dalam bahasa sehari-hari.

Novel Impian Paviliun Merah telah diadaptasi dalam berbagai bentuk dan versi, mulai dari pertunjukan drama, pertunjukan boneka (wayang thithi), komik, film sampai video games.