Batas Air

Batas Air (Shui Hu Zhuan, Water Margin) adalah sebuah roman terkenal dari zaman Dinasti Ming yang ditulis oleh Shi Nai-an dan Luo Guanzhong. Roman ini dikenal pula dengan nama "108 Pendekar Liang Shan" (108 Bandits of Liang Shan), karena isinya menceritakan pemberontakan rakyat di masa Dinasti Song, dimotori oleh 108 pendekar dari Liang Shan di bawah kepemimpinan Song Jiang.  108 pendekar ini bertemu dalam waktu berbeda dan kemudian berkumpul bersama di Gunung Liang di wilayah Shandong sekarang ini. Mereka melakukan sumpah setia satu sama lain dan mengambil sikap bermusuhan dengan para pejabat kekaisaran Dinasti Song yang korup, namun tetap setia kepada sang kaisar.

Batas Air merupakan salah satu dari 4 karya sastra terbaik di dalam sejarah sastra Tiongkok, bersama dengan  Perjalanan Ke Barat (Xi You Ji, Journey to The West), Kisah Tiga Negara (Sanguozhi Yanyi, Samkok, Romance of the Three Kingdoms), dan Impian Paviliun Merah (Hong Lou Meng, Dream of the Red Chamber). Dari ke-empat karya sastra tersebut, hanya Batas Air yang ditulis dalam bahasa awam, sementara sisanya menggunakan bahasa Tiongkok klasik.

Ada beberapa versi berbeda tentang pengarang dari novel ini. Namun secara umum, Shi Nai-an dan Luo Guanzhong disetujui sebagai kontributor penulisan novel. Versi popular ini menyatakan bahwa Shi Nai-an menulis 70 bab pertama dan Luo Guanzhong menyelesaikan 30 bab terakhir. Namun juga ada dugaan bahwa tidak ada orang bernama Shi Nai-an karena Shi Nai-an adalah nama samaran dari Luo sendiri.

Novel ini dibuka dengan cerita mengenai lepasnya 108 siluman yang dipenjara di bawah pengawasan Bixi (salah satu dari 9 putra Raja Naga, yang digambarkan sebagai seekor naga dengan cangkang kura-kura). Berdasarkan kepercayaan yang ada dalam Tao, nasib setiap orang terikat dengan bintang takdir (su xing). Dikisahkan, ada 108 bintang yang diusir oleh Shangdi, dewa tertinggi dalam agama rakyat Tiongkok. Setelah bertobat, ke-108 bintang tersebut dilepaskan dari penjara secara tidak sengaja, dan terlahir kembali ke dunia sebagai 108 pahlawan yang bersatu berjuang demi keadilan.

Bab selanjutnya menceritakan kebangkitan Gao Qiu, salah satu tokoh antagonis utama dalam novel ini. Gao Qiu menyalahgunakan posisinya sebagai Jendral Besar dengan menindas Wang Jin, seorang penjahat jalanan. Ayah Wang Jin menjadi korban keganasan Gao Qiu, sementara Wang Jin bersama ibunya berhasil melarikan diri dari ibu kota kerarajaan. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Shi Jin yang kemudian menjadi muridnya.

Beberapa bab selanjutnya menceritakan salah seorang teman Shi Jin yang bernama Lu Zhishen bersama dengan saudara angkatnya yang bernama Lin Chong. Lin Chong dijebak oleh Gao Qiu karena berusaha membunuhnya, dan hampir mati dalam sebuah kebakaran di depot pasokan makanan yang dijaga oleh pasukan Gao. Dia berhasil membunuh musuh-musuhnya dan meninggalkan depot itu, akhirnya mencapai daerah berawa Liang Shan, dimana ia memulai kehidupan baru sebagai penjahat jalanan.

Sementara itu, sekelompok penjahat jalanan yang berjumlah 7 orang yang dipimpin oleh Chao Gai berupaya merampok sebuah konvoi yang membawa hadiah ulang tahun untuk Tutor Kekaisaran Cai Jing, seorang antagonis utama lainnya dari novel ini. Mereka melarikan diri ke daerah berawa Liang Shan setelah mengalahkan beberapa pasukan yang dikirim pihak berwewenang untuk menangkap mereka. Seiring berlalunya waktu, semakin banyak orag yang datang ke Liang Shan bergabung dengan kelompok inti yang dikomandani oleh Chao Gai ini, termasuk perrsonil militer dan pejabat sipil yang bosan melayani pemerintahan yang korup serta para pemuda yang memiliki keahlian beladiri.

Kisah-kisah para penjahat diceritakan di bagian terpisah dalam bab-bab berikutnya. Hubungan antar karakter tidak terlalu jelas, tetapi mereka semua bersatu dalam kepemimpinan Song Jiang yang menggantikan posisi Chao Gai setelah yang terakhir ini terbunuh dalam sebuah pertempuran di Benteng keluarga Zeng.

Jalinan kisah selanjutnya menggambarkan berkembangnya konflik antara para penjahat ini dengan pihak pemerintah yang berada dalam kekuasaan Jendral Besar Gao Qiu. Sebuah pertempuran besar terjadi di wilayah Liang Shan antara kedua kubu yang berakhir dengan kemenangan Song Jiang dan para pengikutnya. Kaisar Huizong memberikan amnesti kepada mereka dan merekrut mereka untuk membentuk sebuah kontingen militer dan mengirim mereka memadamkan pemberontakan yang dipimpin oleh Tian Hu, Wang Qing dan Fang La.

Dua pertiga dari penjahat ini gugur dalam pertempuran. Sisanya kembali ke ibu kota kekaisaran dan menerima penghargaan dari kaisar dan berkiprah melayani pemerintahan Dinasti Song. Sebagian lainnya menghabiskan sisa hidup mereka sebagai rakyat jelata di tempat lain. Song Jian sendiri pada akhirnya tewas diracun oleh empat menteri pengkhianat, Gao Qiu, Yang Jian, Tong Guan dan Cai Jing.

Kisah-kisah dalam novel Batas Air telah diadaptasi dalam berbagai bentuk dan versi, mulai dari pertunjukan drama, komik, film sampai video games. Beberapa perusahaan game yang telah membuatnya adalah Konami, KOEI, dan Interserv.